Upgrade to Chess.com Premium!

Membangun Harmoni

  • emde
  • | Feb 18, 2011 at 12:31am
  • | Posted in: emde's Blog
  • | 275 reads
  • | 4 comments

Al-Qur'an mengakui keniscayaan adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam berkeyakinan dan beragama. Hal ini terlihat dari firman Allah swt:

"Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikannya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepada kamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (QS. Al-Mâidah/5: 48)

Tetapi dalam saat yang sama, Tuhan menegaskan bahwa:

"Manusia adalah umat yang satu. Lalu Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan." (QS. Al-Baqarah/2: 213)

Perbedaan adalah keniscayaan, tetapi persatuan adalah keharusan yang harus diwujudkan. Perbedaan dapat menjadi rahmat selama dialog dan syarat-syaratnya terpenuhi. Tetapi, perbedaan bisa menjadi bencana jika ia mengarah menjadi perselisihan, sambil masing-masing menganggap diri atau kelompoknya memonopoli kebenaran sedang selain diri atau kelompoknya memonopoli kesalahan.

Absolusitas dalam berkeyakinan dan beragama harus dibangun atas dasar kesepahaman untuk saling menghargai nilai kebenaran masing-masing sambil mencari titik temu untuk mencapai keharmonisan dan tidak saling memaksakan.

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mari mencari titik temu antara kita. Kita jangan menyembah selain Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah (akuilah) eksistensi kami) bahwa kami adalah orang-orang muslim". (QS. Ali 'Imrân/3: 64)

Pengakuan ini bersifat timbal balik – bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku (QS. Al-Kâfirûn/109: 6) – sehingga dengan demikian masing-masing pihak dapat melaksanakan apa yang dianggapnya benar dan baik, tanpa memutlakkan pendapatnya kepada orang lain.

Absolusitas adalah sikap jiwa "ke dalam" sehingga ia tidak menuntut pernyataan atau kenyataan di luar bagi yang tidak meyakininya. Ketika kaum musyrik bersikeras menolak ajaran Islam, maka demi kemaslahatan bersama, Tuhan memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk berkata kepada mereka:

"Sesungguhnya kami atau kamu yang berada dalam kebenaran, atau dalam kesesatan yang nyata. Kamu tidak akan diminta mempertanggungjawabkan pelanggaran-pelanggaran kami, dan kami pun tidak akan diminta mempertanggunjawabkan perbuatan-perbuatan kamu. Katakanlah, "Tuhan kelak akan menghimpun kita semua, kemudian Dia memberi keputusan di antara kita dengan benar. Sesungguhnya Dia Maha Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui." (QS. Saba'/34: 24-26)

Terlihat betapa al-Qur'an mengajarkan untuk tidak memaksakan sebuah nilai yang dianggap absolut. Justru sebaliknya, kandungan ayat tersebut menyatakan: "mungkin kami yang benar, mungkin juga tuan; mungkin kami yang salah, mungkin juga tuan, karena itu kita serahkan kepada Tuhan untuk memutuskannya". Bahkan dalam redaksi ayat di atas, apa yang dilakukan oleh Nabi saw disebut sebagai pelanggaran, sedangkan apa yang dilakukan oleh mereka yang menolak ajaran Islam disebut sebagai perbuatan. Ini adalah suatu sikap berbicara yang sangat menghormati lawan bicaranya, meskipun sudah jelas menurut si pembicara (yakni al-Qur'an) bahwa sikap mereka yang menolak ajaran agama adalah dosa.

Sikap yang diajarkan al-Qur'an ini jauh lebih toleran daripada sikap yang sering terdengar dari ulama yang menyatakan "pendapat kami benar, tetapi mengandung kemungkinan keliru; dan pendapat anda keliru, tetapi mengandung kemungkinan benar."

Jelas terlihat betapa al-Qur'an sangat mendorong lahirnya semangat toleransi demi terwujudnya keharmonisan dalam kehidupan bersama. Agama mengajarkan demikian karena kesatuan pendapat dalam segala hal, termasuk berkeyakinan dan beragama, tidak mungkin tercapai.

Kelemahan manusia, yang berpotensi menghambat terbangunnya kesepahaman dan keharmonisan, adalah semangat beragama yang menggebu-gebu, sehingga bersikap melebihi sikap Tuhan, menginginkan agar semua manusia satu pendapat dan keyakinan. Padahal Tuhan sendiri memberi kebebasan setiap orang untuk memilih jalannya sendiri. "Siapa yang ingin percaya, silahkan; dan siapa yang menolak terserah juga baginya." (QS. al-Kahfi/18: 29). Wallâhu a'lam bish-shawaâ

Comments


  • 15 months ago

    Djamiat

    saya sependapat  semua bisa sependapat bahwa tidak semua bisa sependapat

  • 15 months ago

    Tambunan

    Memang sangat disayangkan, mengapa begitu sulit untuk memahami hal yg demikian.

    Apa yang terjadi dengan masyarakat kita sehingga hal seperti itupun sulit untuk dipahami?

    Saya kira memang banyak faktor yang bisa mempengaruhi mengapa masyarakat kita rentan dengan isu-isu sara. Menurut saya salah satu faktornya adalah para tokoh agama kurang serius dalam membina dan mengajarkan hal-hal kebaikan kepada umatnya.

    Faktor lainnya yang tidak kalah penting adalah faktor kemiskinan. Didukung dengan pemerintahan negara yang tidak lagi bisa dipercaya oleh masyarakat.

    Nah, jika anda bertanya, bagaimana mencari solusi terbaik dalam hal ini?

    Mungkin jawaban saya sama dengan musisi pelantun tentang kisah-kisah alam... "Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang..."

    Dudu dudu..... dududu dudu... dudu dudu... ooo... ooo...

  • 15 months ago

    emde

    sayangnya tidak semua orang sependapat dengan bung T untuk sependapat dengan kalimat/pesan itu... Laughing

  • 15 months ago

    Tambunan

    Bagus sekali...

    "...dalam berkeyakinan dan beragama harus dibangun atas dasar kesepahaman untuk saling menghargai nilai kebenaran masing-masing sambil mencari titik temu untuk mencapai keharmonisan dan tidak saling memaksakan."

    Saya sependapat dengan kalimat di atas.

Back to Top

Post your reply: